Selasa, 11 November 2014

Indahnya Matahari Pagi di Wisata Bromo

Indahnya Matahari Pagi di Wisata Bromo WAKTU baru tunjukkan jam 03. 00 saat deru kendaraan berpenggerak empat roda (four wheel drive) terdengar menyusuri lautan pasir Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (11/8/2014). Suhu hawa yang dingin tidak hentikan putaran roda kekar itu menembus pekatnya kabut.

Lantaran sudah mengetahui medan sekitarnya, pengemudi mobil itu dengan yakin diri membawa wisatawan mengarah ke Penanjakan I di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Penanjakan I adalah titik pertama untuk nikmati lokasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dari titik berketinggian 2. 770 mtr. diatas permukaan laut ini, wisatawan bakal mengintip matahari terbit.

Kemacetan sekian kali berlangsung waktu beberapa puluh mobil bertukaran merayap di jalur terjal menanjak. Wisatawan yang mau lihat matahari di ufuk timur yang memesona sesungguhnya mempunyai dua pilihan tempat. Terkecuali dari Penanjakan I, mereka dapat juga lihat dari Penanjakan II yang ada di Kecamatan Sukapura.

Sesudah satu jam perjalanan, pada akhirnya hingga juga mereka di Tosari. Sambil menanti matahari terbangun, wisatawan dapat menghangatkan tubuh dengan nikmati makanan serta minuman panas yang dijajakan oleh warga. Wisatawan yang masih tetap kedinginan dapat kenakan selimut yang banyak disewakan.

Perjalanan berat pagi itu rupanya belum berbuah keberuntungan. Awan tidak tipis jadi penghalang. Matahari yang umumnya terbit jam 05. 00-05. 30 belum juga tampak. Seputar jam 06. 00, matahari baru menyembul dari awan dengan garis merah kekuningan di batas cakrawala. Wisatawan juga bersorak. Mereka mengabadikan peristiwa itu dengan bermacam kamera. Beberapa yang lain pilih berfoto diri (selfie).

Ikatan batin

Bromo serta mentari paginya itu yaitu momentum sebagai argumen banyak wisatawan terasa mempunyai ikatan batin dengan gunung yang dipercaya oleh orang-orang Tengger juga sebagai tempat bersemayam Dewa Brahma itu. Mereka juga mau datang serta datang lagi.

”Tiga bln. lantas saya kesini. Saat ini, saya datang lagi dengan mengajak rekan-rekan. Sekalian lihat upacara kebiasaan Tengger, Yadnya Kasada, ” tutur Jujun Junarya yang datang dari Banten. Juga sebagai fotografer yang mengutamakan diri pada lanskap serta budaya, Jujun menilainya Bromo serta subetnis Tenggernya berikan banyak titik menarik juga sebagai object photo.

Ketagihan dengan wisata Bromo juga dihadapi Rizki Dwi Putra, mahasiswa suatu perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur. Ia telah tiga kali datang ke Bromo, spesial untuk mengambil peristiwa Yadnya Kasada. ”Kalau datang ke Bromo berbarengan upacara Kasada, kita memperoleh menu komplit, dari mulai panorama alam sampai ritual budaya, ” ucapnya.

Hari itu Bromo menarik perhatian beberapa orang. Bukanlah saja pemburu photo, warga dari berbagai kepercayaan juga banyak yang datang untuk melihat hari raya orang-orang Tengger, Yadnya Kasada. Kusaini (55), seseorang warga Pusungmalang, Kecamatan Puspo, Pasuruan, berniat datang ke Bromo sesudah 13 th. tidak hadir lihat Kasada.

”Saya paling akhir kesini th. 2001. Kemudian tak pernah datang lagi. Kesempatan ini, saya berniat turut anak-anak yang mau melihat larung sesaji di Bromo, ” katanya. Menurut Kusaini, sepanjang belasan th. ini banyak yang beralih. Bromo serta penyelenggaraan Kasada lebih rapi dibanding dengan dahulu. Untuk naik ke puncak serta melihat kaldera Bromo, pengunjung terbantu oleh tangga semen dengan anak tangga sejumlah 240 buah.

Untuk warga Tengger, Yadnya Kasada jadi sisi spiritual yg tidak dapat diabaikan. Mereka tidak cuma datang melarung sesaji, namun juga tinggal serta menginap merayakan hari raya itu dengan cara meriah. Percik serta ledakan kembang api di hawa juga berbaur dengan nada musik yang mengalun kencang dari pengeras nada.

Edi Darmono (24), masyarakat Wonokerto, Kecamatan Sumber, Probolinggo, datang berbarengan 14 saudaranya. Mengendarai dua mobil bak terbuka, ia membawa sebagian pengeras nada (sound sistem) berkapasitas 30 ampere serta 20 ampere ditambah amplifier. Untuk menghidupkan piranti itu, ia membawa suatu generator set. Musik disko juga berdentum keras dari tempatnya ada, persis diluar tembok poten (pura) yang ada di dalam lautan pasir.

Manfaat menyingkirkan dinginnya hawa yang ada dibawah 10 derajat celsius, Edi membentangkan terpal yang ke-2 sisinya diikatkan pada kendaraan yang dia bawa. Dibawah terpal tersebut mereka memasak, makan, serta tidur sepanjang proses Yadnya Kasada. ”Empat th. paling akhir saya senantiasa membawa sound sistem. Kebetulan seluruhnya piranti itu punya sendiri. Untuk kami, Kasada yaitu hari raya hingga pantas dirayakan, ” kata Edi.

Bromo serta lokasi sekitarnya tidak pernah sepi, senantiasa menarik pengunjung. Balai Besar TNBTS memperkirakan tidak kurang dari 15. 000 orang datang pada Yadnya Kasada th. ini, beberapa salah satunya warga Tengger. Menurut Kepala Balai Besar TNBTS Ayu Dewi Utari, pengunjung kesempatan ini sedikit menyusut dibanding dengan th. lantas. Pemicunya yaitu dana untuk liburan terserap untuk Lebaran serta pemilu.

”Selain keadaan alam yang menawan, TNBTS mempunyai ritual budaya yang menarik, yaitu Kasada, yang diwarnai dengan upacara melarung hasil alam ke kawah gunung waktu awal hari. Prosesi seperti ini tak ada ditempat lain, ” katanya.

Dengan luas seputar 50. 276, 2 hektar, TNBTS mempunyai beberapa hal. Terkecuali bentang alam, taman nasional ini dapat mempunyai ekosistem yang khusus, dari mulai lautan pasir, savana, sampai rimba hujan dengan keanekaragaman hayati nan melimpah. Anda dapat membeli paket wisata Bromo supaya lebih mudah dan murah untuk liburan ke Bromo.

Sumber : Kompas